Selasa, 26 Oktober 2010

PSIKOLOGI INDIGENUS DAN INDIGENISASI

 PSIKOLOGI INDIGENUS DAN INDIGENISASI
SEBAGAI ACUAN PENELITIAN DAN TERAPAN
DALAM PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DI INDONESIA

 Abstrak

Psikologi indigenus berarti studi ilmiah mengenai tingkah laku  yang asli, yang tidak diperoleh dari daerah yang lain, yang dirancang untuk orang-orang setempat. Indigenisasi adalah proses penyampuran antara Psikologi luar dan setempat. Indigenisasi mencakup studi tentang isu dan konsep yang merupakan kebutuhan dan realitas dari budaya tertentu. Di Indonesia - dengan realitas pelbagai etnik dan kondisi sosio-budaya – yang  mengakibatkan perbedaan kondisi psikologisnya, perlu menempuh pendekatan indigenisasi psikologi. Diberikan contoh indigenisasi sebagai acuan penelitian dan penerapan Psikologi Perkembangan, antara lain mengenai konsep-konsep perkembangan, yaitu tugas perkembangan, self, orientasi nilai anak, hak anak versus hak orang tua. 

Kata kunci : psikologi indigenus, indigenisasi psikologi, penelitian dan terapan indigenisasi psikologi perkembangan di Indonesia

Abstract

Indigenous Psychologies is scientific study of human behaviour (or the mind) that is native, that is not transported from other regions and that is designed for its people. Indigenization is a blend between mainstream psychology and indigenous psychology, covering the study of the issues and concepts which form the realistic requirement for a certain culture. In Indonesia, with several ethnic realities and socio-cultural conditions causing different psychological  conditions, requires indigenization psychological approach. An example of indigenization is presented as reference for research and application in developmental psychology, among others developmental concepts, namely developmental tasks, self, child’s value orientation, children ‘s right versus parents’ right. 

Key words : indigenous psychology, indigenization of psychology, research and application of indigenization in developmental psychology in Indonesia

Psikologi Indigenus dan Indigenisasi di Indonesia

            Tulisan ini diawali dengan pemahaman dua istilah yang menjadi fokus pembahasan, yaitu indigenus (indigenous) dan indigenisasi (indigenization). Tertulis dalam buku Indigenous Psychology (Kim & Berry, 1993, hal. 2) : Indigenous Psychologies can be defined as the scientific study of human behavior (or the mind) that is native, that is not transported  from other regions and that is designed for its people. Dalam buku   Cross-Cultural Psychology: Research and Application (Berry, Poortinga, Segall & Dasen, 1992) : Indigenous Psychology attemps to develop a behavioral science that matches the sociocultural realities of one’s own society. Dalam definisi ini ada 4 hal yang perlu diperhatikan, yaitu : pertama, pengetahuan psikologi tidak dipaksakan dari luar, melainkan dimunculkan dari tradisi budaya setempat;  kedua, psikologi yang sesungguhnya bukan berupa tingkah laku artifisial yang diciptakan (hasil studi eksperimental), melainkan  berupa tingkah laku keseharian ;  ketiga, tingkah laku  dipahami dan diinterpretasi tidak dalam kerangka teori yang diimport, melainkan dalam kerangka pemahaman budaya setempat ; keempat, psikologi indigenous mencakup pengetahuan psikologi yang relevan dan didesain untuk orang-orang setempat. Dengan kata lain, psikologi indigenus mencerminkan realitas sosial dari masyarakat setempat. Psikologi indigenus juga merupakan psikologi yang appropriate. Terkait dengan hal yang diungkapkan terakhir , Adair (1992) menyebutnya sebagai blending psikologi luar dan setempat agar menjadi appropriate. Sinha (1965) menyebut hal ini dalam konteks India sebagai integrasi dari psikologi modern dan pemikiran India. Blending inilah yang disebut proses indigenisasi).
            Dengan demikian telah dipahami adanya proses indigenisasi, yang pada dasarnya merupakan proses menuju psikologi indigenus. Menurut tulisan Enriquez (dalam Berry, Poortinga & Pandey, 1997), walaupun terdapat kedekatan antara pendekatan indigenus dengan pendekatan psikologi lintas budaya (Cross Cultural Psychology) , kedua pendekatan tersebut berbeda, namun keduanya perlu digunakan secara bersama.  Pendekatan Psikologi indigenus mencakup indigenization from within ,dan pendekatan Psikologi lintas budaya mencakup indigenization from without. Pendekatan indigenization from without  membicarakan isu, konsep dan metoda yang dikembangkan oleh komunitas ilmiah di “Barat” – kebanyakan Amerika Serikat serta Eropa Barat - dan yang dipelajari di “Timur” – kebanyakan negara dunia ketiga. Dalam hal itu akan banyak upaya untuk memodifikasi instrumen guna memasukkan perspektif indigenus/setempat. Menurut Enriquez karena pendekatan semacam ini masih diawali oleh gagasan dari barat, dapat disebut sebagai bentuk psychological & cultural “colonialization”. Adapun indigenization from within mencakup studi tentang isu dan konsep yang mencerminkan kebutuhan dan realitas dari budaya tertentu. Contoh isu buta-huruf, kemiskinan, pembangunan nasional, dan psikologi desa adalah isu yang tepat untuk India, tetapi belum tentu tepat untuk negara industri (Sinha, dalam Kim & Berry, 1993).    
Dalam tulisan ini akan diungkap bagaimana proses indigenisasi psikologi di Indonesia,  mengapa hal itu perlu dan bagaimana pengembangannya ? Isu, konsep psikologis, serta metoda apa yang appropriate untuk kondisi Indonesia? Selain itu akan diulas bagaimana pendekatan indigenus dan indigenisasi dalam Psikologi Perkembangan, terutama sebagai acuan penelitian dan terapan.
Salah satu sumber informasi tentang kondisi psikologi di Indonesia adalah tulisan Sarwono (1996) tentang Psychology in Indonesia, yang dimuat di jurnal World Psychology. Dalam tulisan itu dipaparkan bahwa Psikologi di Indonesia diperkenalkan pada 1952, berarti psikologi di Indonesia mempunyai sejarah yang jauh lebih singkat dibanding dengan Psikologi di dunia Barat (Eropa Barat, Amerika Utara). Dengan sejarahnya yang lebih singkat tersebut, Psikologi di Indonesia juga menghadapi masalah-masalah, antara lain apa yang sudah berhasil diterapkan di dunia Barat tidak selalu dapat diterapkan di Indonesia. Penerapan Psikologi di Indonesia juga menghadapi perbedaan kondisi masyarakat yang didasari perbedaan etnik dan perbedaan kondisi masyarakat, misalnya masyarakat desa dan kota. Apa yang sudah berhasil diterapkan di satu etnik belum tentu sesuai untuk etnik lain. Misalnya norma IQ Wechsler Bellevue untuk golongan menengah terdidik di Jakarta, pulau Jawa, tidak valid bila diterapkan untuk golongan tak terdidik di desa/ di pulau lain. Dalam tulisan Sarwono juga diungkapkan masalah kedua yang dihadapi Psikologi di Indonesia adalah kondisi research psikologi, yang digambarkan bahwa perguruan tinggi psikologi lebih banyak menghasilkan psikolog profesional dibandingkan peneliti. Dalam penelitiannyapun lebih banyak berorientasi pada penelitian terapan dibandingkan dengan penelitian dasar. 
            Dengan demikian kondisi khas Indonesia yang terdiri dari kurang lebih 3000 pulau dan 300 etnik, akan mewarnai bagaimana pengembangan Psikologi, khususnya psikologi indigenus. Kondisi adanya pelbagai etnik dengan perbedaan kondisi psikologisnya, menyebabkan kita bertanya-tanya, apakah kita dapat mempunyai psikologi indigenus Indonesia ? Adakah ciri psikis manusia Indonesia, atau kita harus bicara tentang Psikologi Jawa, Psikologi Bugis, Psikologi Minang, dsb. (waktu menulis artikel ini saya mencari tulisan Darmanto Yatman tentang Psikologi Jawa, tetapi tidak ketemu ;  menurut pendapat saya karya Darmanto tersebut perlu dikaji kontribusinya untuk indigezation psikologi di Indonesia. Demikian pula disertasi Sumantri Hardjoprakosa tentang Indonesische Mensbild, atau tulisan MAW Brouwer tentang Manusia Sunda). Dengan demikian pertanyaan sejauh mana upaya indigenization yang perlu kita lakukan, perlu dikaji lebih dahulu. Kalau kita dasarkan pertimbangan bahwa tingkah laku itu dipengaruhi faktor dalam diri dan luar diri , maka kalau diasumsikan aspek-aspek dalam diri dan luar diri antar etnik itu berbeda, perlu ditempuh indigenisasi sampai pada level etnik, ataupun  desa & kota.  Selanjutnya untuk memperoleh konsep psikologi Indonesia dapat dilakukan studi cross indigenous, yaitu membandingkan konsep psikologis dari beberapa etnik yang ada di Indonesia. Studi cross indigenous  memang merupakan tujuan dari psikologi indigenus, sebab sebagaimana layaknya suatu ilmu – termasuk Psikologi – bertujuan untuk menemukan universalitas.
            Masalah lain dalam proses indigenisasi Psikologi di Indonesia adalah kurangnya penelitian dasar. Padahal untuk menemukan konsep-konsep psikologis yang indigenus, perlu dilakukan penelitian dasar, mungkin lebih sesuai yang bersifat kualitatif. Demikian pula sebagai upaya menemukan  konsep-konsep Psikologi Indonesia, perlu membuat studi cross indigenous antar etnik atau antar kondisi spesifik seperti desa dan kota yang ada di Indonesia.

Pendekatan  Indigenus dan Indigenisasi dalam Penelitian dan Terapan Psikologi Perkembangan di Indonesia

            Psikologi Perkembangan mempelajari perubahan fungsi-fungsi Psikis yang terjadi sepanjang hayat, dari konsepsi sampai tua dan meninggal. Kata kunci dalam Psikologi Perkembangan adalah change over time. Oleh karena itu rumus B= f PE (Behaviour = fungsi Person, Environment), dalam Psikologi Perkembangan oleh  Bronfenbrenner (1996) diubah menjadi D= f Pt, Et ( Development = fungsi Person pada time tertentu ; artinya suatu tingkah laku itu terjadi pada anak/remaja/dewasa/tua ? Adapun Pt berarti juga  memperhitungkan person anak/remaja/dewasa/tua ? Et berarti memperhitungkan paparan  pengaruh lingkungan, apakah  terjadi pada masa anak/remaja/dewasa/tua? Dengan demikian Bronfenbrenner menekankan pentingnya membahas perkembangan manusia dalam konteks.
            Dalam Psikologi Perkembangan dipelajari bahwa setiap periode/masa perkembangan ada ciri yang wajar pada masa itu, tetapi menjadi tidak wajar pada periode lain. Misalnya kalau anak balita bertengkar dengan temannya, lalu menangis dan lari kepangkuan ibunya, adalah tingkah laku yang wajar pada usia tersebut. Namun kalau seorang dewasa bertengkar dengan temannya lalu menangis dan lari kepangkuan ibunya, adalah tingkah laku yang tidak wajar pada periode dewasa.
            Selain ciri-ciri perkembangan, guna terapan dalam pendidikan dipelajari juga tugas perkembangan, yaitu tugas-tugas yang perlu dicapai/dipenuhi pada periode tertentu; bila terpenuhi individu yang berkembang akan merasa bahagia, bila tidak, akan mengganggu pemenuhan tugas perkembangan berikutnya. Misalnya pada periode remaja ada tugas perkembangan mencapai pergaulan yang matang dengan teman sebaya baik sejenis maupun lawan jenis. Kalau tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi pada periode remaja, individu tersebut akan mengalami kesulitan memenuhi tugas perkembangan pada periode berikutnya, yaitu mempersiapkan suatu pernikahan. Bagaimana dia bisa menjalin  relasi pria dan wanita guna suatu pernikahan bila yang bersangkutan  belum mencapai relasi yang matang dengan lawan jenisnya ? Rumusan tugas perkembangan tersebut diperoleh dari gabungan antara ciri fisik/psikis individu, norma/nilai masyarakat, dan aspirasi individu. Dengan demikian perlu dipertanyakan ketepatan konsep tugas perkembangan untuk kondisi yang berbeda dengan kondisi dimana konsep tersebut diungkapkan. Kalau konsep tugas perkembangan pertama kalinya diutarakan oleh Havigshurst dengan dasar penelitiannya pada anak dan remaja kelas menengah di Amerika, apakah harapan masyarakat untuk seorang remaja, misalnya ketidak tergantungan secara emosi terhadap orang tua, sesuai dengan kondisi di Indonesia ? Di Indonesia harapan orang tua terhadap remaja masih berorientasi pada tuntutan ketergantungan, bahkan kalau sudah menikahpun, orientasi ketergantungan anak terhadap orang tua masih dipertahankan.  Dengan demikian perlu ada upaya indigenisasi konsep tugas perkembangan dalam kondisi sosiobudaya Indonesia. Hal ini telah dilakukan oleh Hendriati Agustiani dalam disertasinya (2000).
            Konsep  self  juga perlu upaya indigenisasi. Kalau kita baca pemikiran Markus dan Kitayama tentang  interdependent construal self  (pada masyarakat yang kolektivistik – termasuk Indonesia) yang berbeda dengan independent construal self (pada masyarakat yang individualistic – Amerika Utara dan Eropa Barat), kita memahami bahwa konsep self pada masyarakat kolektivistik berbeda dengan self pada masyarakat individualistik. Padahal konsep  self  yang kita pakai sekarang berasal dari filosofi dan hasil- hasil penelitian di masyarakat individualistik.  Cigdem Kagitcibasi mengutarakan konsep autonomous relatedness self  yang sesuai untuk masyarakat kolektivistik pada jaman globalisasi. Artinya dalam masyarakat kolektivistik masih perlu mempertahankan ciri khasnya, yaitu memperhatikan relasi dengan orang lain, namun perlu juga mengadopsi konsep self  yang otonom. Kalau konsep autonomous related self digunakan dalam penelitian serta aplikasi Psikologi di Indonesia, misalnya dalam pengasuhan anak, cara pengasuhan anak akan berbeda (autonomous dengan anjuran para psikolog yang memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu berdasarkan ilmu dari Barat yang dipelajarinya  (independent self). Apakah hal ini bukan merupakan kesalahan konseptual dari psikolog yang mengamalkan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia di Indonesia ?
            Dalam studi literatur, upaya-upaya indigenisasi Psikologi Perkembangan telah dilakukan, antara lain oleh Harkness & Super (1993) dengan konsep The Developmental Niche ) Rolf Oerter (1994) dengan Consept of Human Nature. Konsep developmental niche mengutarakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kondisi geografi ( misalnya anak di Eskimo berbeda dengan anak di Jakarta); pengetahuan ibu tentang perkembangan anak (misalnya bila konsep/pengetahuan ibu tentang bayi baru lahir adalah bayi yang lemah, perlu diberi kehangatan fisik, maka perlakuan ibu terhadap bayi baru lahir akan didasari konsep nya, misalnya bayi baru lahir dibedong /dililit dengan selimut supaya hangat dan tidak banyak bergerak; hal ini akan berbeda bila konsep/pengetahuan ibu tentang bayi baru lahir memerlukan latihan gerak) . Hasil penelitian Suci Martiningsih Wibowo (1996) dengan acuan consept of human nature dari  Rolf Oerter menemukan bahwa relasi mahasiswa (periode dewasa muda) dengan orang tua etnik Jawa dan dan Sunda lebih berorientasi pada interdependent self, sedang mahasiswa etnik Minang dan Padang lebih berorientasi pada independent self.
            Studi tentang anak di pemukiman padat juga menunjukkan konsep yang berbeda dengan temuan di Barat. Kalau mengacu pada alat ukur HOME, lingkungan yang baik untuk anak adalah yang memberikan fasilitasi perkembangan optimal, antara lain tersedia buku bacaan, punya tempat belajar sendiri, di rumah cukup ruang untuk bergerak , ada televisi untuk menambah pengetahuan. Dari hasil penelitian Dina ( 2000) terungkap bahwa anak dalam pemukiman padat yang tidak memiliki fasilitas perkembangan optimal seperti disebutkan dalam alat ukur HOME, ternyata memiliki alternatif lain dalam menggunakan lingkungan guna menstimulasi perkembangan optimal. Anak-anak di pemukiman padat biasa main di jalan, hal ini memperluas space tempat geraknya. Anak juga bebas menonton televisi di rumah tetangga, jadi walaupun tidak memiliki televisi di rumahnya sendiri, anak tetap menerima stimulasi untuk optimasi perkembangannya. Hasil penelitian ini memberikan umpan balik kepada psikolog perkembangan, kalau mau menggunakan alat ukur yang disusun dari Barat, belum tentu indicator pengukurannya cocok dengan kondisi sosio-budaya Indonesia. Perlu juga dipikirkan, apakah oreientasi individual tentang lingkungan perkembangan anak perlu diubah menjadi orientasi lingkungan komunitas anak.

Pengasuhan Anak
           
            Ketepatan konsep yang digunakan akan mempengaruhi  penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali Psikolog diminta ceramah mengenai pengasuhan anak, cara membesarkan anak. Dengan konsep indigenus/indigenisasi dalam Psikologi Perkembangan, bagaimana menyikapi hal ini ?
            Salah satu contoh dalam sosialisasi KHA (Konvensi Hak Anak) di Kalimantan menunjukkan bahwa KHA yang sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia ternyata mengalami kesulitan dalam sosialisasi  penerapannya kepada orang tua, karena orang tua mempunyai konsep tersendiri yang berbeda. Misalnya dalam konsep KHA kekerasan kepada anak perlu dihindari, antara lain tentang hukuman fisik. Dalam sosialisasi KHA di Kalimantan ditemukan bahwa orang tua masih melakukan hukuman fisik dalam pengasuhan anaknya. Ketika diperkenalkan konsep KHA, yang antara lain menyebutkan bahwa orang tua tidak boleh memberikan hukuman fisik kepada anak, dijawab oleh orang tua bahwa mereka berhak memperlakukan anaknya menurut kepercayaannya, antara lain dengan hukuman fisik. Dalam hal ini KHA tidak  sejalan dengan Hak Orang Tua.
            Dalam studi tentang Values of Children terungkap bahwa orang tua menganggap keuntungan mempunyai anak adalah untuk meneruskan keturunan, merawat orang tua dihari tua, menyenangkan orang tua; hal ini berarti bahwa nilai anak lebih berorientasi pada kepentingan orang tua, bukan berorientasi pada masa depan anak. Kalau orang tua ditanya tentang anak yang ideal, jawabannya masih berorientasi pada “anak patuh kepada orang tua” (obedient child). Hal yang sama diungkap oleh Valsiner tahun 1989 dalam penelitiannya. Patut dipertanyakan, apakah kalau ditemukan dalam penelitian VOC di Indonesia tahun 2000 hasil yang sama, apakah hal itu sesuai dengan kehidupan modern saat ini ?    

Epilog

  1. Indigenus dan indigenisasi konsep-konsep dalam Psikologi umumnya, serta psikologi perkembangan khususnya, perlu dilakukan.
  2. Dalam penelitian perlu dipertimbangkan kesesuaian konsep dan pengukuran dengan kondisi setempat. Ini berarti perlu kewaspadaaan peneliti tentang indigenisasi konsep maupun pengukuran yang digunakan.
  3. Dalam penerapan perlu diperhatikan kesesuaian konsep yang hendak dijadikan acuan penyuluhan dengan kondisi setempat. 
Daftar Pustaka

·        Adair, JG . 1992. Empirical Studies of Indigenization and and Development of the Discipline in Developing Countries. Dalam S. Iwawaki, Y Kasima, & K Leung (Eds)  Innovations in cross-cultural Psychology (pp 62-74). Swets & Zeitlinger, Netherlands
·        Berry, J.W; Poortinga, Ype; Segall, M.H; Dasen, P. 2008. Third Edition. Cross Cultural Psychology- Research and Application. Cambridge University Press, UK.
·        Bronfenbrenner, Urie. 1979.The Ecology of Human Development – Experiments by Nature and Design. Harvard University Press, Cambridge
·        Cigdem Kagitcibasi. 2007- second edition. Family, Self, and Human Development Across Cultures. Lawrence Erlbaum, USA
·        Dina. Perkembangan Anak di Pemukiman Padat. 1996. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung
·        Enriquez, VG. 1993. Dalam Kim, U & Berry, JW. Indigenous Psychologies – Research and Experience in Cultural Context. Sage, London
·        Havighurst , R.J. 1953. Human Development and Education.Longmans, NY
·        -Harkness, S. & Super, C.H (Eds). 1995. Parents’ Cultural Belief Systems – Their origins, expressions, and consequences. Guliford Press, NY
·        Hendriati Agustiani. 2006. Psikologi Perkembangan – Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja. Aditama, Bandung
·        Markus, HR & Kitayama, S. 1991. Culture and the Self – Implication for cognition, emotion, and motivation.Psychological Review, 98, 244-53
·        Oerter, Rolf. 1986. Developmental Task through the Life Span – A New Approach to an Old Concept. Dalam Baltes, PB; Featherman,DL; Lerner, RM. Life Span Development and Behaviour Vol. 7. Erlbaum, New Jersey
·        Sarwono, Sarlito. 1996. Psychology in Indonesia. Global World Journal
·        Shinha, D. 1965. Dalam Handbook of Cross-Cultural Psychology. Volume I –Theory and Method. Second Edition, 1997. Allyn Bacon, Singapore
·        Sutji Martiningsih Wibowo. 1994. Characteristics of Mutual Identity Stage in Indonesian Culture. Makalah yang dipresentasikan pada symposium ISSBD di Pamplona, 1994
·        Valsiner, J (1989). Child Development in Cultural Context. Hogrefe, Toronto



              
           
           
     

0 komentar:

Poskan Komentar